Ensiklopedia Sumpah Pemuda
Youth Pledge
| History of Indonesia |
|---|
| Timeline |
The Youth Pledge (Indonesian: Sumpah Pemuda) was a declaration made on 28 October 1928 by young Indonesian nationalists in the Second Youth Congress (Kongres Pemuda Kedua). They proclaimed three ideas: one motherland, one nation and one language.[1]
Background[edit]
The first Indonesian youth congress was held in Batavia, capital of the then-Dutch East Indies in 1926. It produced no formal decisions but did promote the idea of a united Indonesia. The idea are Indonesian dream of independence become dream of all Indonesian youth and all youth organization empowered efforts to mobilize youth organizations in one forum.[2]
In October 1928, the second Indonesian youth congress was held in three locations. In the first session held in the Katholieke Jongelingenbond building, the hope was expressed that the congress would inspire the feeling of unity. The second session saw discussions about educational issues held in Oost Java Bioscoop building . In the third and final session, held at Jalan Kramat Raya No, 106, which was a house owned by Sie Kong Lian on 28 October participants heard the future Indonesian national anthem Indonesia Raya by Wage Rudolf Supratman played with violin .
The congress closed with a reading of the youth pledge.[3][4]
The pledge[edit]
In Indonesian, with the original spelling, the pledge reads:[3]
In Indonesian with current spelling:
In English:
First Congress of Indonesian Youth[edit]
- Chairman: Sugondo Djojopuspito (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia/PPPI)
- Vice Chairman: R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
- Secretary: Mohammad Yamin (Jong Soematranen Bond)
- Treasurer: Amir Sjarifuddin (Jong Batak Bond)
- Aide I: Johan Mohammad Cai (Jong Islamieten Bond)
- Aide II: R. Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia)
- Aide III: R.C.I. Sendoek (Jong Celebes)
- Aide IV: Johannes Leimena (Jong Ambon)
- Aide V: Mohammad Rochjani Su'ud (Pemoeda Kaoem Betawi)
National Day
As of Presidential Decree No. 316 of 1959 dated December 16, 1959, 28 October became non-holiday national day.[5]
References
- Hudaya Latuconsina & Dedi Rafidi (1996) Pelajaran Sejarah untuk SMU Jilid 2 (History for Senior High School Vol. 2). Penerbit Erlangga, Jakarta, ISBN 979-411-251-8
- Kahin, George McTurnan (1952) Nationalism and Revolution in Indonesia Cornell University Press, ISBN 0-8014-9108-8
- Ricklefs (1982), A History of Modern Indonesia, Macmillan Southeast Asian reprint, ISBN 0-333-24380-3
- Youth Pledge Museum website (Indonesian)
Sumpah Pemuda
Bagian dari seri mengenai |
|---|
| Sejarah Indonesia |
| Garis waktu |
| Wikisource memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini: |
Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.
Yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27—28 Oktober 1928 di Batavia (kini bernama Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam berbagai surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan".
Istilah "Sumpah Pemuda" sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Berikut ini adalah bunyi tiga keputusan kongres tersebut sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda.[1] Naskah orisinil diabadikan menggunakan ejaan Van Ophuijsen.
Isi sumpah[sunting | sunting sumber]
Bunyi ketiga keputusan kongres dalam Ejaan Bahasa Indonesia (ejaan terbaru yang digunakan pada masa kini):
Rumusan Kongres[sunting | sunting sumber]
Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga.[2] Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.[3]
Komentar
Posting Komentar